Selasa, 29 April 2014

Perjalanan Rosulullah SAW ke Thaif

     Selama sembilan tahun, sejak masa kerasulan, Baginda Nabi Muhammad SAW telah berusaha menyampaikan ajaran islam dan mengusahakan hidayah serta perbaikan kaumnya di mekkah. Namun, kebanyakan orang-orang makkah selalu menyakiti, memperolok-olok, dan berbuat semena-mena terhadap baginda Nabi SAW dan para sahabat, kecuali sekelompok kecil orang yang sudah masuk islam dan beberapa orang yang selalu membantu beliau walaupun belum masuk islam.
     Paman baginda Nabi SAW, Abu Thalib, termask orang yang baik hatinya, meskipun belum masuk islam. Dia selalu membantu Nabi SAW dalam segala bentuk. Pada tahun kesepuluh kenabian, ktika Abu Thalib meninggal dunia, kau kafir mendapat kesempatan untuk mencegah perkembangan islam dan menyakiti kaum muslimin secara lebih leluasa.
     Baginda Rasulullah SAW pun pergi ke thaif yang didiami kabilah Tsaqif yang bejumlah besar, dengan harapan apabila kabilah tersebut masuk islam, kaum  muslimin akan terbebas dari berbagai penderitaan dan Thaif akan menjadi pondasi peyebaran agama. Setibanya di Thaif, Baginda Nabi SAW langsung menemui tiga orang yang di tokohkan. Beliau berbicara dengan mereka, mengajak mereka kepada agama allah SWT, dan agar mereka membantu Baginda Rasulullah SAW. Akan tetapi, mereka bukannya menerima atau paling tidak berlaku sopan kepada tamu yang baru datang sebagaimana adat bangsa arab yang terkenal dengan memuliakan tamu, bahkan mereka tanpa basa-basi menyambut beliau dengan sikap dan akhlak yang sangat buruk. Bahkan mereka pun tidak rela Baginda Rasulullah SAW tinggal disitu. Padahal, orang yang di anggap sebagai tokoh seharusnya berbicara dengan sopan dan berakhlak yang mulia.
     Salah seorang di antaa mereka berkata, "Oh, kamukah orang yang di utus oleh allah sebagai nabi?" Ynag kedua berkata, "Apakah allah tidak menemukan orang selain kamu untuk di utus sebagai rasul?" Yang ketiga berkata, "Aku tidak mau bicara dengan kamu.sebab, jika kamu memang seorang nabi seperti pengakuanmu, lalu aku menolakmu, tentu aku tidak lepas dari musibah. jika kamu pembohong, maka aku tidak mau bicara dengan pembohong." Akan tetapi, Baginda Nabi SAW mempunyai hati ang begitu teguh laksana sebuah batu karang. Beliau tidak berputus asa dan terus berusaha untuk mendekati masyarakat umum, tetapi tidak seorangpun yang mau mendengarkan beliau. Jangankan menerima, bahkan mereka menghardik, "Tinggalkanlah segera kota kami! pergilah kemana kamu suka!"
     Ketika Baginda Nabi SAW sudah tidak dapat mengharapka mereka dan bersiap-siap untuk kembali, maka mereka menyuruh anak-anak kota Thaif mebuntuti Baginda Nabi SAW. Mereka lalu mengganggu, mencaci dan melempari Baginda Nabi SAW dengan batu sehingga kedua sandal beliau berlumuran darah.. Dalam keadaan seperti itulah Baginda Nabi SAW meninggalkan Thaif. Di tengah perjalanan tatkala sudah merasa aman dari gangguan anak-anak nakal itu, beliau berdoa kepada allah SWT.

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ

0 komentar:

Posting Komentar